http://www.freesearchenginesubmission.infocliquez ici http://www.casino-online.us/ PENYALUR ALAT KESEHATAN: Penyalur

Penyalur Alat Kesehatan

Penyalur Alat Kesehatan adalah Perusahaan Alat Kesehatan - Hospital Furniture - Laboratorium - Radiologi - Apotik dan Farmasi - Produk Juknis DAK BKKBN - Alat Peraga Kesehatan yang sudah memiliki izin PAK, ISO 9001:2008, ISO 14001:2004 EMS, HAKI, Gakeslab dan lain-lain.

Obgyn Bed BKKBN 2020

Obgyn Bed BKKBN 2020 dilengkapi dengan Lampu Sorot LED yang bisa dicas ulang. Selain itu pula kami juga membantu mempersiapkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan seperti : Surat Dukungan, IPAK, HAKI, ISO 9001:2008, Gakeslab, Jaminan Ketersediaan Barang, Jaminan Purna Jual, Registrasi DEPKES dan lain-lain sesuai dengan yang ditetapkan panitia pengadaan lelang.

Kie Kit BKKBN 2020

Kie Kit BKKBN 2020 dan Media Lini Lapangan BKKBN 2020. Juknis DAK BKKBN 2018 Obgyn Bed ~ Kie Kit ~ GenRe Kit ~ Iud Kit ~ Implant Kit ~ Sarana PLKB ~ ~ Sarana PPKBD ~ BKB Kit ~ APE Kit ~ Public Address ~ Lansia Kit ~ Lemari Alokon.

Iud Kit BKKBN 2020

Iud Kit BKKBN 2020 adalah Instrument pemasangan dan pelepasan alat kontrasepsi KB susuk/ IUD (Intra Uterine Device)yang sudah memiliki NIE (Nomor Izin Edar). Juknis DAK BKKBN 2020 Obgyn Bed ~ Kie Kit ~ GenRe Kit ~ Iud Kit ~ Implant Kit ~ Sarana PLKB ~ Sarana PPKBD ~ BKB Kit ~ APE Kit ~ Public Address ~ Alokon Cabinet ~ Lansia Kit.

GenRe Kit BKKBN 2020

GenRe Kit BKKBN 2020 adalah materi permainan, laptop/ notebook dan LCD proyektor petugas lapangan dalam memberikan penyuluhan kepada remaja tentang pentingnya program Generasi Berencana bagi masa depan generasi muda. Juknis DAK BKKBN 2020 Obgyn Bed ~ Kie Kit ~ GenRe Kit ~ Iud Kit ~ Implant Kit ~ Sarana PLKB ~ Sarana PPKBD ~ BKB Kit ~ APE Kit ~ Lansia Kit ~ Tempat Penyimpanan Alat Obat Kontrasepsi KB.

Sarana PLKB BKKBN 2020

Sarana PLKB BKKBN 2020 adalah perlengkapan sarana dan prasarana petugas penyuluhan lapangan KB. Salah satu program untuk mengendalikan jumlah penduduk ini adalah melalui pedewasaan usia perkawinan. Juknis DAK BKKBN 2020 Obgyn Bed ~ Kie Kit ~ GenRe Kit ~ Iud Kit ~ Implant Kit ~ Sarana PLKB ~ BKB Kit ~ APE Kit ~ Lansia Kit ~ Lemari Tempat Penyimpanan Alat Obat kontrasepsi KB.

Tampilkan postingan dengan label Penyalur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyalur. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Januari 2018

IPAK | Proses Pegurusan Izin Penyalur Alat Kesehatan dan PKRT

Bagaimana Cara mengurus Izin Penyalur Alat kesehatan ? Ini adalah pertanyaan yang sering dilontarkan oleh perusahaan-perusahaan yang bergerak dibidang Alat Kesehatan Medis - Furniture Rumah Sakit - Produk DAK BKKBN - Phantom/ Manikin Alat Peraga Pendidikan Kesehatan - Pengadaan Peralatan dan bahan Habis Pakai Rumah Sakit.

Berikut ini kami sampaikan bagaimana proses pengurusan perizinan melalui proses dan tahapan yang terdapat dibawah ini.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia - Izin Penyalur Alat Kesehatan
Loket 02 - Perijinan Sertifikasi Sarana Produksi Dan Distribusi Alat Kesehatan Dan PKRT

I. PELAYANAN SERTIFIKASI SARANA PRODUKSI ALKES DAN PERBEKALAN KESEHATAN RUMAH TANGGA (PKRT) DAN SARANA DISTRIBUSI ALKES

A. Penanggung Jawab
Dra. Rully Makarawo, Apt

B. Uraian singkat tentang produk layanan

Pemberian layanan perijinan Ijin Penyalur Alat Kesehatan ( IPAK ), Addendum dan Perubahan IPAK , Sertifikat produksi Alkes dan PKRT, Addendum dan perubahan Sertifikat produksi Alkes dan PKRT, Certificate of free sale Akes dan PKRT, Surat Ketrangan ekspor, impor dan surat keterangan lainnya Alkes dan PKRT dan Legalisir IPAK/ sertifikat produksi/ Ijin edar Alkes dan PKRT

C. Persyaratan

- Ijin Penyalur Alat Kesehatan dan Addendum


  • Mengisi formulir permohonan
  • Memiliki surat Rekomendasi dan berita acara pemeriksaan sarana dari Dinas Kesehatan Propinsi
  • Melengkapi data sesuai persyaratan
  • Pemohon harus memperlihatkan LOA (Letter of Authorization) dan CFS (Certificate of Free Sale) asli

- Sertifikat Produksi Alkes dan PKRT dan Addendum


  • Mengisi formulir permohonan
  • Memiliki surat Rekomendasi dan berita acara pemeriksaan sarana dari Dinas Kesehatan Propinsi
  • Melengkapi data sesuai persyaratan

- Certificate of Free Sale Alkes dan PKRT


  • Mengajukan surat permohonan kepada Direktur Bina Produksi dan Distribusi Alkes
  • Melampirkan fotocopy izin edar produk dan Sertifikat Produksi Alkes atau PKRT
  • Melengkapi data sesuai persyaratan

- Surat Keterangan Lain

1. Surat Keterangan bukan alat kesehatan /PKRT



  • Surat Permohonan ditujukan ke Direktur Bina Produksi dan Distribusi Alat Kesehatan
  • Surat penolakan dari INSW atau lartas yang menyatakan memerlukan ijin dari kementerian kesehatan
  • PIB
  • Invoice
  • AWB/MAWB/BL
  • Katalog/ bosur/data pendukung lainnya mengenai produk
2. Surat keterangan bahan baku


  • Surat Permohonan ditujukan ke Direktur Bina Produksi dan Distribusi Alat Kesehatan
  • Foto copy ijin edar
  • Fotocopy sertifikat produksi

3. Surat keterangan spare part


  • Surat Permohonan ditujukan ke Direktur Bina Produksi dan Distribusi Alat Kesehatan
  • Foto copy ijin edar
  • Katalog/ bosur/data pendukung lainnya mengenai produk yang menjelaskan bahwa produk tersebut merupakan spare part dari ijin edar tersebut. Surat penolakan dari INSW atau lartas yang menyatakan memerlukan ijin dari kementerian kesehatan

4. Surat keterangan sampel untuk pengujian dalam rangka persyaratan registrasi


  • Surat Permohonan ditujukan ke Direktur Bina Produksi dan Distribusi Alat Kesehatan
  • Katalog/ bosur/data pendukung lainnya mengenai produk PIB
  • Invoice
  • AWB/MAWB/BL
  • Surat dari laboratorium penguji

- Legalisir IPAK / Sertifikat Produksi / Ijin edar


  • Mengajukan surat permohonan kepada Direktur Bina Produksi dan Distribusi Alkes dengan menyebutkan peruntukan untuk legalisir.
  • Melmperlihatkan Ijin edar Asli / Sertifikat produksi / IPAK asli
  • Ijin edar/ IPAK/ sertifkat produksi yang akan dilegalisir maksimal 10 lembar per legalisir.


D. Prosedur / Mekanisme



  • Pemohon mendaftarkan perusahaaan secara online ( www.regalkes.depkes.go.id)
  • Operator di Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Alat Kesehatan akan memeriksa keabsahan perusahaan.
  • Jika lengkap maka perusahaan akan mendapat username dan pasword melalui email perusahaan
  • Jika tidak lengkap, perusahaan akan mendapatkan jawaban tidak lengkap beserta keterangannya melalui email perusahaan
  • Berkas Permohonan dilakukan secara online di www.regalkes.depkes.go.id dan akan mendapatkan tanda terima sementara
  • Penilai memeriksa kelengkapan dan kebenaran berkas registrasi izin edar Produksi dan Penyalur
  1. Jika lengkap maka pemohon akan mendapatkan jawaban telah disetujui dan tanggal keloket untuk menyerahkan hardcopy
  2. Jika tidak lengkap maka pemohon akan mendapatkan jawaban bahwa berkas tidak lengkap dan keterangan kekurangannya



  • Pemohon memasukan hardcopy ke loket 2 di Unit Pelayanan Terpadu Kementerian Kesehatan lantai 5 Gedung Prof. DR. Sujudi di Jalan HR Rasuna Said Blok X5 Kavling 4-9 Jakarta 12950
  • Petugas loket akan memeriksa kelengkapan dan kebenaran berkas hardcopy
  1. Jika lengkap akan mendapatkan persetujuan pembayaran PNBP melalui online untuk dicetak oleh pendaftaran
  2. Jika tidak lengkap berkas dikembalikan untuk dilengkapi



  • Pemohon membayar PNBP sesuai ketentuan pada bank yang ditunjuk oleh KPPN V
  • Pemohon menyerahkan bukti pembayaran PNBP loket Pelayanan Terpadu Kementerian Kesehatan lantai 5 Gedung Prof. DR. Sujudi di Jalan HR Rasuna Said Blok X5 Kavling 4-9 Jakarta 12950 loket 3 ( tidak boleh lebih 10 hari kerja )
  • Petugas loket memberikan tanda terima tetap kepada pemohon, dan mencatat berkas peijinan di buku tanda terima
  • Berkas selanjutnya akan diproses sesuai dengan janji layanan.


E. Waktu Penyelesaian (Sejak berkas lengkap)



  • Ijin Penyalur Alat Kesehatan (IPAK) : 30 hari kerja *)
  • Adendum dan Perubahan ijin Penyalur Alat Kesehatan : 30 hari kerja *)
  • Sertifikat Produksi Alkes dan PKRT : 30 hari kerja *)
  • Adendum dan Perubahan Sertifikat Produksi Alkes dan PKRT :30 hari kerja *)
  • Certificate of Free Sale Alkes dan PKRT : 10 hari
  • Surat Keterangan Ekspor Impor dan Surat Keterangan lain : 10 hari kerja
  • Legalisir IPAK/ Sertifikat Produksi.Ijin Edar : 5 hari kerja

Catatan : *) terhitung sejak mendapat nomor tetap

F. Biaya
PNBP sesuai dengan PP no 21 tahun 2013 tentang Jenis dan tarif PNBP yang berlaku pada Kementerian Kesehatan RI

G. Kontak Lebih Lanjut

Minggu, 12 Maret 2017

Jual Lansia Kit BKKBN 2019 | Posyandu Pelayanan Kesehatan Lansia

Lansia Kit BKKBN 2019 | Posyandu Pelayanan Kesehatan Lansia 
Keadaan masyarakat Indonesia yang beragam sangat dipengaruhi oleh perkembangan masyarakat dari usia dini.  Pemerintah telah memperhatikan kelangsungan pekembangan usia dini ini dengan mengoptimalkan berbagai bentuk pengembangan di usia muda, seperti peningkatan mutu pendidikan, pengembangan pola-pola intelektual, pola pendidikan moral dan banyak aspek lainnya. Hal ini tentu saja menggembirakan, meskipun tidak bisa menjadi jaminan bahwa upaya tersebut dapat meningkatkan kualitas generasi selanjutnya.

Begitu besar perhatian pemerintah kepada generasi muda, dengan harapan akan membuat bangsa ini menjadi baik. Pemerintah begitu intens memfokuskan pengembangan dan perbaikan pada anak-anak dan remaja, sesungguhnya melupakan keberadaan para lansia. Lansia sesungguhnya memiliki hak untuk mendapatkan apresiasi yang sama dengan usia produktif lainnya. Meskipun telah ada undang-undang yang difokuskan pada lansia yaitu UU No. 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, tetap saja para lansia ini menjadi hal yang terabaikan.

Lansia sering dianggap sebagai golongan yang lemah, tetapi sesungguhnya lansia memiliki peran yang berarti bagi masyarakat. Lansia memiliki penalaran moral yang bagus untuk generasi dibawahnya. Lansia memiliki semacam gairah yang tinggi karena secara alami, manusia akan cenderung memanfaatkan masa-masa akhirnya secara optimal untuk melakukan pewarisan nilai dan norma. Hal ini justru mempermudah kita untuk membina moral anak-anak.

Namun sebelum kita merasakan keberadaan lansia yang sebenarnya dapat membantu pembelajaran moral ini, kita senantiasa menganggap bahwa lansia adalah simbol yang merepotkan dan kurang kontribusi. Hal ini dikarenakan kita sendiri kurang mengapresiasi para lansia tersebut, sehingga tidak jarang para lansia itu terlantar meskipun mempunyai keluarga. Banyak keluarga yang karena kesibukannya terkesan melalaikan orang tua dan memasukkannya ke panti jompo (Hardin and Hudson, 2005).

Masa lanjut usia adalah masa dimana individu dapat merasakan kesatuan, integritas, dan refleksi dari kehidupannya. Jika tidak, ini akan menimbulkan ketimpangan dan bahkan dapat mengakibatkan patologis, semacam penyakit kejiwaan (Latifah, 2010). Jika ini terjadi maka keadaan masyarakat juga terganggu, dimana lansia sebagai penguat transformator nilai dan norma berkurang, baik secara kualitas dan kuantitas.

Banyak contoh yang terjadi dimasyarakat kita, dimana lansia berlaku yang kurang sopan atau bahkan kurang beradab sehingga secara tidak langsung akan mengganggu ketentraman kehidupan bermasyarakat. Lansia di Indonesia, menurut Depkomindo 2010, pada tahun 2008 berjumlah 23 juta orang, sedangkan lansia yang terlantar mencapai 1,7 juta sampai 2 juta orang.

Dari berbagai kejadian yang ada, kita harusnya sadar bahwa sudah saatnya kita mengapresiasi para lansia dengan bersikap adil, yang tidak dapat disamakan dengan perlakuan kita terhadap anak-anak dan para remaja. Kita seharusnya mempunyai mekanisme untuk memberdayakan lansia sesuai dengan umur mereka, membantunya melalui tahap perkembangan, dan menyertakannya dalam proses transformasi pendidikan moral. Dengan demikian mereka tidak merasa terabaikan.

Seiring dengan meningkatnya populasi lansia, pemerintah telah berusaha merumuskan berbagai kebijakan untuk usia lanjut tersebut, terutamanya pelayanan dibidang kesehatan. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan dan mutu kehidupan lansia untuk mencapai masa tua yang bahagia dan berdaya guna dalam kehidupan keluarga dan masyarakat sesuai dengan keberadaannya.

Wujud dari usaha pemerintah ini adalah dicanangkannya pelayanan bagi lansia melalui beberapa jenjang yaitu pelayanan kesehatan ditingkat masyarakat adalah Posyandu Lansia. Pelayanan kesehatan lansia tingkat dasar adalah Puskesmas, dan pelayanan tingkat lanjutan adalah Rumah Sakit.

Dengan demikian, posyandu lansia sangat kita perlukan, dimana posyandu lansia ini dapat membantu lansia sesuai dengan kebutuhannya dan pada lingkungan yang tepat, sehingga para lansia tidak merasa lagi terabaikan didalam masyarakat.

Lansia Kit DAK BKKBN 2019 Terbaru
TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian
Lanjut Usia (Lansia)
Menurut UU No. 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, pengertian lanjut usia (lansia) adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Keadaan ini dibagi menjadi dua, yaitu Lanjut Usia Potensial dan Lanjut Usia Tidak Potensial.
Lanjut Usia Potensial adalah lanjut usia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang dan/ jasa, sedangkan Lanjut Usia Tidak Potensial adalah lanjut usia yang tidak berdaya mencari nafkah sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain.

Sedangkan WHO menggolongkan lanjut usia menjadi empat, yaitu
Ø Usia Pertengahan (middle age) : umur 45-59 tahun
Ø Lanjut Usia (elderly) : umur 60-74 tahun
Ø Lanjut Usia Tua (old) : umur 75-90 tahun
Ø Usia Sangat Tua (very old) : umur diatas 90 tahun
Ø Departemen Kesehatan RI menggolongkan lanjut usia menjadi tiga kelompok, yaitu
Ø Kelompok Lansia Dini (55-64 tahun), merupakan kelompok yang baru memasuki lansia
Ø Kelompok Lansia (65 tahun ke atas)
Ø Kelompok Lansia resiko tinggi yaitu lansia yang berusia lebih dari 70 tahun

Lansia merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan. Dalam mendefinisikan batasan penduduk lanjut usia menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional ada tiga aspek yang perlu dipertimbangkan yaitu : aspek biologis, aspek ekonomi dan aspek sosial (Wijayanti, 2008).

Secara biologis, penduduk yang disebut lansia adalah penduduk yang mengalami proses penuaan secara terus-menerus, yang ditandai dengan menurunnya daya tahan fisik yaitu semakin rentan terhadap serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Hal ini disebabkan karena terjadinya perubahan dalam struktur sel, jaringan, serta sistem organ.

Secara ekonomi, lansia dipandang sebagai beban dari pada sebagai sumber daya. Banyak yang beranggapan bahwa kehidupan masa tua tidak lagi memberikan manfaat, bahkan ada yang beranggapan bahwa kehidupan masa tua, seringkali dipersepsikan negatif, sebagai beban keluarga dan masyarakat. Sedangkan secara sosial, lansia merupakan satu kelompok sosial sendiri. Dinegara barat, lansia menempati strata sosial dibawah kaum muda, sedangkan di Indonesia, lansia menduduki kelas sosial yang tinggi yang harus dihormati oleh warga muda (Wijayanti, 2008).

Posyandu Lansia
Posyandu Lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat usia lanjut disuatu wilayah tertentu yang sudah disepakati, yang digerakkan oleh masyarakat dimana mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan.

Posyandu lansia merupakan pengembangan dari kebijakan pemerintah melalui pelayanan kesehatan bagi lansia yang penyelenggaraannya melalui program Puskesmas dengan melibatkan peran serta para lansia, keluarga, tokoh masyarakat dan organisasi sosial dalam penyelenggaraannya (Erfandi, 2008).

Posyandu juga merupakan wadah kegiatan berbasis masyarakat untuk bersama-sama menghimpun seluruh kekuatan dan kemampuan masyarakat untuk melaksanakan, memberikan serta memperoleh informasi dan pelayanan sesuai kebutuhan dalam upaya peningkatan status gizi masyarakat secara umum (Henniwati, 2008).

Menurut Departemen Kesehatan RI (2005), posyandu lansia adalah suatu bentuk keterpaduan pelayanan kesehatan terhadap lansia ditingkat desa/ kelurahan dalam masing-masing wilayah kerja puskesmas. Keterpaduan dalam posyandu lansia berupa keterpaduan pada pelayanan yang dilatar belakangi oleh kriteria lansia yang memiliki berbagai macam penyakit. Dasar pembentukan posyandu lansia adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama lansia.

Tujuan Posyandu Lansia
Ø  Menurut Erfandi (2008), Tujuan Posyandu Lansia secara garis besar adalah
Ø  Meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan lansia dimasyarakat, sehingga terbentuk pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan lansia.
Ø  Mendekatkan pelayanan dan meningkatkan peran serta masyarakat dan swasta dalam pelayanan kesehatan, disamping meningkatkan komunikasi antara masyarakat usia lanjut.
Manfaat Posyandu Lansia
Manfaat dari posyandu lansia adalah pengetahuan lansia menjadi meningkat, yang menjadi dasar pembentukan sikap dan dapat mendorong minat atau motivasi mereka untuk selalu mengikuti kegiatan posyandu lansia sehingga lebih percaya diri dihari tuanya.

Sasaran Posyandu Lansia
Sasaran posyandu lansia adalah :
Ø  Sasaran langsung, yaitu kelompok pra usia lanjut (45-59 tahun), kelompok usia lanjut (60 tahun ke atas), dan kelompok usia lanjut dengan resiko tinggi (70 tahun ke atas).
Ø  Sasaran tidak langsung, yaitu keluarga dimana lansia berada, organisasi sosial yang bergerak dalam pembinaan usia lanjut, masyarakat luas (Departemen Kesehatan RI, 2006).
Ø  Kegiatan Posyandu Lansia
Ø  Bentuk pelayanan pada posyandu lansia meliputi pemeriksaan kesehatan fisik dan mental emosional, yang dicatat dan dipantau dengan Kartu Menuju Sehat (KMS) untuk mengetahui lebih awal penyakit yang diderita atau ancaman masalah kesehatan yang dialami. Beberapa kegiatan pada posyandu lansia adalah :
Ø  Pemeriksaan aktivitas kegiatan sehari-hari meliputi kegiatan dasar dalam kehidupan, seperti makan/minum, berjalan, mandi, berpakaian, naik turun tempat tidur, buang air besar/kecil dan sebagainya.
Ø  Pemeriksaan status mental. Pemeriksaan ini berhubungan dengan mental emosional dengan menggunakan pedoman metode 2 (dua ) menit
Ø  Pemeriksaan status gizi melalui penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan dan dicatat pada grafik indeks masa tubuh (IMT).
Ø  Pengukuran tekanan darah menggunakan tensimeter dan stetoskop serta    penghitungan denyut nadi selama satu menit.
Ø  Pemeriksaan hemoglobin menggunakan talquist, sahli atau cuprisulfat
Ø  Pemeriksaan adanya gula dalam air seni sebagai deteksi awal adanya penyakit gula (diabetes mellitus)
Pemeriksaan adanya zat putih telur (protein) dalam air seni sebagai deteksi awal adanya penyakit ginjal.

Pelaksanaan rujukan ke Puskesmas bilamana ada keluhan dan atau ditemukan kelainan pada pemeriksaan butir-butir diatas.

Penyuluhan Kesehatan, biasa dilakukan didalam atau diluar kelompok dalam rangka kunjungan rumah dan konseling kesehatan dan gizi sesuai dengan masalah kesehatan yang dihadapi oleh individu dan kelompok usia lanjut.

Kunjungan rumah oleh kader disertai petugas bagi kelompok usia lanjut yang tidak dating, dalam rangka kegiatan perawatan kesehatan masyarakat.

Selain itu banyak juga posyandu lansia yang mengadakan kegiatan tambahan seperti senam lansia, pengajian, membuat kerajian ataupun kegiatan silaturahmi antar lansia. Kegiatan seperti ini tergantung dari kreasi kader posyandu yang bertujuan untuk membuat lansia beraktivitas kembali dan berdisiplin diri.

Mekanisme Pelayanan Posyandu Lansia
Mekanisme pelayanan Posyandu Lansia tentu saja berbeda dengan posyandu balita pada umumnya. Mekanisme pelayanan ini tergantung pada mekanisme dan kebijakan pelayanan kesehatan di suatu wilayah penyelenggara. Ada yang menyelenggarakan posyandu lansia ini dengan sistem 5 meja seperti posyandu balita, ada pula yang hanya 3 meja. 3 meja tersebut meliputi :
–      Meja I : pendaftaran lansia, pengukuran dan penimbangan berat badan dan atau tinggi badan.
–      Meja II : melakukan pencatatan berat badan, tinggi badan dan index massa tubuh (IMT); juga pelayanan kesehatan seperti pengobatan sederhana dan rujukan kasus.
–      Meja III : melakukan kegiatan konseling atau penyuluhan, dapat juga dilakukan pelayanan pojok gizi.

Produsen dan Distributor Produk DAK BKKBN 2019
Masalah kesehatan pada Lansia
Masalah kesehatan pada lansia tentu saja berbeda dengan jenjang umur yang lain karena pada penyakit pada lansia merupakan gabungan dari kelainan-kelainan yang timbul akibat penyakit dan proses menua yaitu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti sel serta mempertahankan struktur dan fungsi normalnya, sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita.

Dr. Purma Siburian Sp PD, pemerhati masalah kesehatan pada lansia menyatakan bahwa ada 14 I yang menjadi masalah kesehatan pada lansia, yaitu :
Immobility (kurang bergerak), dimana meliputi gangguan fisik, jiwa dan faktor lingkungan sehingga dapat menyebabkan lansia kurang bergerak. Keadaan ini dapat disebabkan oleh gangguan tulang, sendi dan otot, gangguan saraf dan penyakit jantung.

Instability (tidak stabil/ mudah jatuh), dapat disebabkan oleh faktor intrinsik (yang berkaitan dengan tubuh penderita), baik karena proses menua, penyakit maupun ekstrinsik (yang berasal dari luar tubuh) seperti obat-obatan tertentu dan faktor lingkungan. Akibatnya akan timbul rasa sakit, cedera, patah tulang yang akan membatasi pergerakan. Keadaan ini akan menyebabkan gangguan psikologik berupa hilangnya harga diri dan perasaan takut akan terjadi.

Incontinence (buang air) yaitu keluarnya air seni tanpa disadari dan frekuensinya sering. Meskipun keadaan ini normal pada lansia tetapi sebenarnya tidak dikehendaki oleh lansia dan keluarganya. Hal ini akan membuat lansia mengurangi minum untuk mengurangi keluhan tersebut, sehingga dapat menyebabkan kekurangan cairan.

Intellectual Impairment (gangguan intelektual/ dementia), merupakan kumpulan gejala klinik yang meliputi gangguan fungsi intelektual dan ingatan yang cukup berat sehingga menyebabkan terganggunya aktivitas kehidupan sehari-hari.

Infection (infeksi), merupakan salah satu masalah kesehatan yang penting pada lansia, karena sering didapati juga dengan gejala tidak khas bahkan asimtomatik yang menyebabkan keterlambatan diagnosis dan pengobatan.

Impairment of vision and hearing, taste, smell, communication, convalencence, skin integrity (gangguan panca indera, komunikasi, penyembuhan dan kulit), merupakan akibat dari proses menua dimana semua panca indera berkurang fungsinya, demikian juga pada otak, saraf dan otot-otot yang dipergunakan untuk berbicara, sedangkan kulit menjadi lebih kering, rapuh dan  mudah rusak dengan trauma yang minimal.

Impaction (konstipasi=sulit buang air besar), sebagai akibat dari kurangnya gerakan, makanan yang kurang mengandung serat, kurang minum, dan lainnya.

Isolation (depresi), akibat perubahan sosial, bertambahnya penyakit dan berkurangnya kemandirian sosial. Pada lansia, depresi yang muncul adalah depresi yang terselubung, dimana yang menonjol hanya gangguan fisik saja seperti sakit kepala, jantung berdebar-debar, nyeri pinggang, gangguan pecernaan, dan lain-lain.

Inanition (kurang gizi), dapat disebabkan karena perubahan lingkungan maupun kondisi kesehatan. Faktor lingkungan dapat berupa ketidaktahuan untuk memilih makanan yang bergizi, isolasi sosial (terasing dari masyarakat), terutama karena kemiskinan, gangguan panca indera; sedangkan faktor kesehatan berupa penyakit fisik, mental, gangguan tidur, obat-obatan, dan lainnya.

Impecunity (tidak punya uang), semakin bertambahnya usia, maka kemampuan tubuh untuk menyelesaikan suatu pekerjaan akan semaki berkurang, sehingga jika tidak dapat bekerja maka tidak akan mempunyai penghasilan.

Iatrogenesis (penyakit akibat obat-obatan), sering dijumpai pada lansia yang mempunyai riwayat penyakit dan membutuhkan pengobatan dalam waktu yang lama, jika tanpa pengawasan dokter maka akan menyebabkan timbulnya penyakit akibat obat-obatan.

Insomnia (gangguan tidur), sering dilaporkan oleh lansia, dimana mereka mengalami sulit untukmasuk dalam proses tidur, tidur tidak nyenyak dan mudah terbangun, tidur dengan banyak mimpi, jika terbangun susah tidur kembali, terbangun didini hari-lesu setelah bangun di pagi hari.

Immune deficiency (daya tahan tubuh menurun), merupakan salah satu akibat dari prose menua, meskipun terkadang dapat pula sebagai akibat dari penyakit menahun, kurang gizi dan lainnya.

Impotence (impotensi), merupakan ketidakmampuan untuk mencapai dan atau mempertahankan ereksi yang cukup untuk melakukan senggama yang memuaskan yang terjadi paling sedikit 3 (tiga) bulan. Hal ini disebabkan karena terjadi hambatan aliran darah ke dalam alat kelamin sebagai adanya kekakuan pada dinding pembuluh darah, baik karena proses menua atau penyakit.
Data penyakit lansia di Indonesia (umumnya pada lansia berusia lebih dari 55 tahun) adalah sebagai berikut:
–      Penyakit Cardiovascular
–      Penyakit otot dan persendian
–      Bronchitis, asma dan penyakit respirasi lainnya
–      Penyakit pada mulut, gigi dan saluran cerna
–      Penyakit syaraf
–      Infeksi kulit
–      Malaria
–      Lain-lain
(Anonim, 2008)

Perusahaan Penyedia dan Pendukung Lelang tender BKKBN 2019
Kader Posyandu
Kader posyandu, menurut Departemen Kesehatan RI (2006) adalah seseorang atau tim sebagai pelaksana posyandu yang berasal dari dan dipilih oleh masyarakat setempat yang memenuhi ketentuan dan diberikan tugas serta tanggung jawab untuk pelaksanakan, pemantauan, dan memfasilitasi kegiatan lainnya (Henniwati, 2008).

Penilaian Keberhasilan Upaya Pembinaan Lansia melalui Posyandu Lansia
Menurut Henniwati (2008), penilaian keberhasilan pembinaan lansia melalui kegiatan pelayanan kesehatan di posyandu, dilakukan dengan menggunakan data pencatatan, pelaporan, pengamatan khusus dan penelitian. Keberhasilan tersebut dapat dilihat dari :
–      Meningkatnya sosialisasi masyarakat lansia dengan berkembangnya jumlah orang masyarakat lansia dengan berbagai aktivitas pengembangannya
–      Berkembangnya jumlah lembaga pemerintah atau swasta yang memberikan pelayanan kesehatan bagi lansia
–      Berkembangnya jenis pelayanan konseling pada lembaga
–      Berkembangnya jangkauan pelayanan kesehatan bagi lansia
–      Penurunan daya kesakitan dan kematian akibat penyakit pada lansia

PERMASALAHAN DAN PEMBAHASAN
Kendala yang dihadapi dalam penyelenggaraan posyandu lansia, seperti yang dikutip dari blog puskesmas-oke, antara lain:
Umumnya lansia tidak mengetahui keberadaan dan manfaat dari posyandu lansia. Hal ini dapat diatasi dengan penyuluhan atau sosialisasi tentang keberadaan dan manfaat posyandu lansia, sehingga mendorong lansia untuk datang dan merasakan sendiri manfaat dari keberadaan posyandu lansia.

Dengan menghadiri kegiatan posyandu, lansia akan mendapatkan penyuluhan tentang bagaimana cara hidup sehat dengan segala keterbatasan atau masalah kesehatan yang melekat pada mereka. Dengan pengalaman ini, pengetahuan lansia menjadi meningkat, yang menjadi dasar pembentukan sikap dan dapat mendorong minat atau motivasi mereka untuk selalu mengikuti kegiatan posyandu lansia
Jarak rumah dengan lokasi posyandu lansia jauh atau sulit dijangkau.
Jarak posyandu yang dekat akan membuat lansia mudah menjangkau posyandu tanpa harus mengalami kelelahan atau kecelakaan fisik karena penurunan daya tahan atau kekuatan fisik tubuh. Kemudahan dalam menjangkau lokasi posyandu ini berhubungan dengan faktor keamanan atau keselamatan bagi lansia. Jika lansia merasa aman atau merasa mudah untuk menjangkau lokasi posyandu tanpa harus menimbulkan kelelahan atau masalah yang lebih serius, maka hal ini dapat mendorong minat atau motivasi lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu. Dengan demikian, keamanan ini merupakan faktor eksternal dari terbentuknya motivasi untuk menghadiri posyandu lansia.

Kurangnya dukungan keluarga untuk mengantar maupun mengingatkan lansia untuk datang ke posyandu lansia. Dukungan keluarga sangat berperan dalam mendorong minat atau kesediaan lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu lansia. Keluarga bisa menjadi motivator kuat bagi lansia apabila selalu menyediakan diri untuk mendampingi atau mengantar lansia ke posyandu, mengingatkan lansia jika lupa jadwal posyandu, dan berusaha membantu mengatasi segala permasalahan bersama lansia.

Keluarga, bagi lansia merupakan sumber kepuasan. Data yang diambil oleh Henniwati (2008) terhadap lansia berusia 50, 60 dan 70 tahun di Kelurahan Jambangan, menyatakan mereka ingin tinggal ditengah-tengah keluarga. Mereka tidak ingin tinggal di Panti Werdha. Para lansia merasa bahwa kehidupan mereka sudah lengkap, yaitu sebagai orang tua dan juga sebagai kakek dan nenek, akan tetapi keluarga juga dapat menjadi frustasi bagi lansia. Hal ini terjadi jika ada hambatan komunikasi antara lansia dengan anak atau cucu, dimana perbedaan faktor generasi memegang peranan.

Ada juga lansia yang mempunyai kemandirian yang tinggi untuk hidup sendiri karena keinginan untuk hidup tanpa merepotkan orang lain. Hal ini dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wijayanti (2007) pada lansia dilingkungan RW V Kelurahan Payung Kecamatan Banyumanik Semarang.

Sikap yang kurang baik terhadap petugas posyandu
Penilaian pribadi atau sikap yang baik terhadap petugas merupakan dasar atas kesiapan atau kesediaan lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu.

Dengan sikap yang baik tersebut, lansia cenderung untuk selalu hadir atau mengikuti kegiatan yang diadakan di posyandu lansia. Hal ini dapat dipahami karena sikap seseorang adalah suatu cermin kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu obyek. Kesiapan merupakan kecenderungan potensial untuk bereaksi dengan cara-cara tertentu apabila individu dihadapkan pada stimulus yang menghendaki adanya suatu respons.

Genre Kit BKKBN 2019 | Juknis DAK BKKBN Blog
Kader Posyandu Lansia
Wahyuna (2008) melakukan penelitian kader di Posyandu Lansia wilayah kerja Puskesmas Ngawi. Kader-kader tersebut hanya bertugas mencatat dan mengurusi masalah konsumsi saja, selain itu kader juga bekerja tergantung perintah petugas kesehatan tanpa ada pelatihan lebih lanjut sehingga peran kader dalam kegiatan tersebut belum optimal.

Kader juga harus mampu berkomunikasi dengan efektif, baik dengan individu atau kelompok maupun masyarakat, kader juga harus dapat membina kerjasama dengan semua pihak yang terkait dengan pelaksanaan posyandu, serta untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan lansia pada hari buka posyandu yaitu pendaftaran, penimbangan, pencatatn/ pengisian KRS, penyuluhan dan pelayanan kesehatan sesuai kewenangannya dan pemberian PMT, serta dapat melakukan rujukan jika diperlukan (Departemen Kesehatan RI, 2006).

Untuk meningkatkan citra diri kader, maka harus dipehatikan  dalam hal sebagai berikut:
–      Meningkatkan kualitas diri sebagai seorang yang dianggap masyarakat, yang dapat memberi informasi terkini tentang kesehatan
–      Melengkapi diri dengan keterampilan yang memadai dalam pelayanan di Posyandu
–      Membuat kesan pertama yang baik dan memperhatikan citra yang positif
–      Menetapkan dan memutuskan perhatian secara cermat pada kebutuhan masyarakat
–      Menampilkan diri sebagai bagian dari anggota masyarakat itu sendiri
–      Mendorong keinginan masyarakat untuk datang ke Posyandu
(Departemen Kesehatan RI, 2006)

Kie Kit BKKBN 2019 | Penyalur Alat Kesehatan
KESIMPULAN
Posyandu lansia merupakan wadah terpadu untuk para lansia dimasa tuanya karena pada usia lanjut seperti ini, kondisi para lansia umumnya mempunyai fisik yang relatif lemah dan kesepian, perlu berkumpul dan saling mengawasi sehingga tidak merasa kesepian dan terabaikan.

Manfaat yang dirasakan dengan adanya posyandu lansia ini bukan hanya dirasakan oleh lansia tetapi juga oleh keluarga dan lingkungan dimana lansia tersebut tinggal. Posyandu lansia dapat membantu lansia untuk menyesuaikan diri dalam perubahan fase kehidupannya sehingga menjadi pribadi yang mandiri sesuai dengan keberadaannya.

Banyak kendala yang ditemui dalam menggerakkan posyandu lansia tetapi kendala tersebut akan dapat diatasi dengan kerja sama semua pihak, yaitu pemerintah pusat, daerah, pihak swasta dan seluruh elemen masyarakat.

Sarana PLKB dan PPKBD BKKBN 2019
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2008. Kesehatan Lansia di Indonesia. http://subhankadir.files.wordpress.com
Defkominfo. 2010. Berita Pemerintahan. www.defkominfo.com
Departemen Kesehatan RI. 2005 dalam Henniwati. 2008. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemanfaatan Pelayanan Posyandu Lanjut Usia di Wilayah Kerja Puskesmas Kabupaten Aceh Timur [tesis]. Medan: Program Pasca Sarjana, Universitas Sumatera Utara. USU e-Repository @2009.
Departemen Kesehatan RI. 2006 dalam Henniwati. 2008. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemanfaatan Pelayanan Posyandu Lanjut Usia di Wilayah Kerja Puskesmas Kabupaten Aceh Timur [tesis]. Medan: Program Pasca Sarjana, Universitas Sumatera Utara. USU e-Repository @2009.
Departemen Kesehatan RI. 2007 dalam Henniwati. 2008. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemanfaatan Pelayanan Posyandu Lanjut Usia di Wilayah Kerja Puskesmas Kabupaten Aceh Timur [tesis]. Medan: Program Pasca Sarjana, Universitas Sumatera Utara. USU e-Repository @2009.
Departemen Kesehatan RI. 2008 dalam Henniwati. 2008. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemanfaatan Pelayanan Posyandu Lanjut Usia di Wilayah Kerja Puskesmas Kabupaten Aceh Timur [tesis]. Medan: Program Pasca Sarjana, Universitas Sumatera Utara. USU e-Repository @2009.
Erfandi. 2008. Pengelolaan Posyandu Lansia.
http://puskesmas-oke.blogspot.com.
Hardin, Eugene and Hudson, Alia Khan. 2005. Elder Abuse-“Society’s Dilemma”. Journal of The National Medical Association. Vol 97, No 1 Jan 2005. p : 91-94
Henniwati. 2008. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemanfaatan Pelayanan Posyandu Lanjut Usia di Wilayah Kerja Puskesmas Kabupaten Aceh Timur [tesis]. Medan: Universitas Sumatera Utara. USU e-Repository @2009.
Latifah, Nurul. 2010. Urgensi Posyandu Lansia. http://bataviase.co.id.
Siburian, Pirma. 2007. Empat Belas Masalah Kesehatan Utama pada Lansia. http://waspada.com.
UU RI Nomor 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia
UU RI Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan
Wahyuna, Adam Wisudiyanto. 2008. Pengaruh Pendidikan Kesehatan tentang Posyandu Lansia terhadap Pengetahuan dan Sikap Kader dalam Pemberian Pelayanan di Posyandu Lansia Wilayah Kerja Puskesmas Kauman Ngawi [skripsi]. Surakarta: Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Wijayanti. 2007. Hubungan kualitas fisik dan Lingkungan dengan Pola Kehidupan Lansia di Kelurahan Pudak Payung Kecamatan Banyumanik, Semarang. Jurnal Ilmiah Perancangan Kota dan Pemukiman. Enclosure. Vol 6 No 1 Maret 2007
Wijayanti. 2008. Hubungan Kondisi Fisik RTT Lansia Terhadap Kondisi Sosial Lansia di RW 03 RT 05 Kelurahan Tegal Sari Kecamatan Candi Sari. Jurnal Ilmiah Perancangan Kota dan Pemukiman. Enclosure. Vol 7 Maret 2008.
Dikutip dari :
Makalah Ilmu Kesehatan Masyarakat
SEKOLAH PASCA SARJANA
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010
SITI KHADIJAH : B251100174

Implant Removal Kit BKKBN 2019 | Penyalur Alat Medis
PT. DUMEDPOWER INDONESIA adalah Produsen dan Distributor Utama pengadaan produk-produk Juknis DAK BKKBN 2016, selain itu kami juga membantu para peserta tender pengadaan produk DAK BKKBN 2018 maupun PL (Penunjukan Langsung) untuk kelengkapan sarana dan prasarana yang dibutuhkan para peserta tender pengadaan maupun PL seperti : Surat Dukungan, SIUP, NPWP, Laporan Pajak 3 Bulan, ISO 9001:2008, I.P.A.K, Geskeslab, H.A.K.I, Jaminan Purna Jual, Jaminan Ketersediaan Teknisi (ATEM) dan (APOTEKER), Surat Uji Toxin Cat, Surat Uji Polimer Tas, Surat Terdaftar di LPSE serta yang lain-lain.

Penyalur Alat Kesehatan dan Produk DAK BKKBN 2019
Untuk pemesanan barang, brosur, harga jual, R.A.B dan surat dukungan Paket Produk Juknis DAK BKKBN 2019 seperti : Kie Kit BKKBN 20199 (KKB plus Family Kit) ~ GenRe Kit BKKBN 2019 ~ Iud Kit BKKBN 2019 ~ Sarana PLKB BKKBN 2019 ~ Public Address BKKBN 2019 ~ Implan Removal Kit BKKBN 2019~ Obgyn Bed BKKBN 2019 ~ BKB Kit+APE Kit BKKBN 2019 ~ Tempat Alat Obat Kontrasepsi DAK Sub-Bidang KB T.A 2019 ~ Mupen KB BKKBN 2019 ~ Lansia Kit BKKBN 2019 ~ PPKBD/ Sub-PPKBD Kit BKKBN 2019 silahkan menghubungi :
Kontak Person : Tn. Elfian Effendi
Mobile : 082125526000 / 081315904286
PIN BB :
Telpon Kantor : 0213912905
Email :
dumedpower2017@gmail.com
Twitter
https://twitter.com/penyaluralkes
Website :
http://juknisdakbkkbnblog.blogspot.com/
http://dumedpower.net/
http://penyaluralatkesehatan.co.id/

Sabtu, 02 Juli 2016

BKB APE Kit BKKBN 2019-2020 | Sertifikat SNI dan Sertifikat Cat Anti Toxin

BKB APE Kit BKKBN 2019-2020 | Juknis DAK BKKBN 209-2020

BKB adalah Bina Keluarga Balita dan APE adalah Alat Peraga Edukasi. BKB Kit BKKBN terdiri dari buku-buku materi penyuluhan dan APE Kit BKKBN terdiri dari alat peraga permainan edukasi yang diadakan oleh BKKBN untuk proses pendidikan kecerdasan anak-anak dalam rangka mensukseskan proses Program Keluarga Berencana Nasional.


Paket produk BKB Kit berisi tentang Buku-Buku Materi dan APE Kit berisi Alat Peraga Permainan Edukasi. Adapun produk-produk BKB APE Kit DAK BKKBN 2019-2020 adalah sebagai berikut :

Perusahaan Penyedia dan Pendukung Lelang Tender BKKBN 2019-2020

MATERI DAN MEDIA PENYULUHAN BINA KELUARGA BALITA ( BKB)
1. MATERI PENYULUHAN BKB
Buku Pengasuhan dan Pembinaan Tumbuh Kembang Anak
Spesifikasi:
Jumlah halaman: 160 halaman.
Ukuran: 16 cm x 21 cm.
Bahan isi: mid paper 100 gr.
Cetak isi: 4/ 4 full color.
Bahan cover: Art Carton 230 gram.
Cetak cover: 4/ 1 full color, sudut atas terdapat logo KKB bawah logo BKKBN dan logo Kabupaten dan Kota serta tertulis nama SKPD-KB Kabupaten dan Kota, Belakang cover logo Ayo Ikut KB, Laminating Dof.
Penjilidan: Spiral kawat + Pembungkus Plastik.

Buku Pengasuhan Anak Usia Dini Holistik Integratif Usia 0-6 Tahun
Spesifikasi:
Jumlah halaman: 80 halaman.
Ukuran: 15 cm x 21 cm.
Bahan isi: Mid paper 100 gram.
Cetak isi: 4/ 4 full color.
Bahan cover: Art Carton 230 gr.
Cetak cover: 4/ 1 full color. sudut atas terdapat logo KKB bawah logo BKKBN dan Kabupaten dan kota serta tertulis nama SKPD-KB Kab. dan Kota, Laminating dof.
Penjilidan: Spiral kawat + Pembungkus Plastik.

Kartu Kembang Anak ( KKA)
Spesifikasi:
Bahan kertas: Art cartoon 230 gram.
Cetak: 4/ 4 full color, sudut atas terdapat logo KKB bawah logo BKKBN dan× Kabupaten dan Kota serta tertulis nama SKPD-KB Kab. & Kota, Laminating Dof.
Ukuran: 25, 6 cm x 43, 7 cm.

Buku Pedoman Kartu Kembang Anak ( KKA)
Spesifikasi:
Jumlah halaman: 50 hal.
Ukuran: 21 x 14, 5 cm.
Bahan isi: Mid paper 100 gr.
Cetak isi: 4/ 4 full color.
Bahan cover: Art Carton 230 gr.
Cetak cover: 4/ 1 full color, sudut atas terdapat logo KKB bawah logo BKKBN dan Kabupaten dan Kota serta tertulis nama SKPD-KB Kab. & Kota, Belakang cover logo Ayo Ikut KB, Laminating dof.
Jilid : Spiral kawat + Pembungkus Plastik.

Buku Panduan Penggunaan Alat Permainan Edukatif ( APE)
Spesifikasi:
Jumlah halaman: 133 halaman.
Ukuran: 15 cm x 21 cm.
Bahan isi: Mid paper 100 gram.
Cetak isi: 4/ 4 full color.
Bahan cover: Art Carton 230 gr.
Cetak cover: 4/ 1 full color. sudut atas terdapat logo KKB bawah Logo BKKBN dan Logo Kabupaten dan kota serta tertulis nama SKPD-KB Kab. & Kota, Belakang cover logo Ayo Ikut KB, Laminating dof.
Penjilidan: Spiral kawat + Pembungkus Plastik.

2. MEDIA PENYULUHAN BINA KELUARGA BALITA ( BKB)
a. ALAT PERMAINAN EDUKATIF ( APE)
– Jenis-jenis APE Untuk Kelompok Umur 0 – 1 Tahun:
Kerincingan/ giring giring
Bahan: Plastik.
Warna: Warna-warni.
Ukuran: Panjang pegangan 10 cm.
Boneka kain berbentuk binatang
Bahan: Kain lunak, anti pecah, bersih, tidak berbahaya.
Warna: Warna warni.
Ukuran: lebih kurang lingkaran 44 cm.
Packing: Maping plastik.

– Jenis-jenis APE Untuk Kelompok Umur 1 – 2 Tahun
Puzzle ( bongkar pasang) berbentuk binatang
Bahan: Kayu pinus, cat non toxic.
Warna: Warna-warni, tidak berbahaya, tidak berbau, mudah dibersihkan.
Paku Palu Bahan: Kayu pinus, papan dibuat lubang untuk paku-pakuan dan pemukul dari kayu tidak tajam, ringan.
Warna: Warna-warni, tidak berbahaya, tidak berbau, mudah dibersihkan.
Ukuran: 21 x 8 x 12 cm.
Packing: Maping plastic.

– Jenis-jenis APE Untuk Kelompok Umur 2 – 3 Tahun
Menara Susun Ganda
Bahan: Potongan triplek sebagai alas, pasang pasak ditengahnya.
Ukuran Besar: 21 x 14 cm.
Kecil: 10 x 14 cm.
Warna: Warna-warni, tidak berbahaya, tidak berbau, mudah dibersihkan.
Packing: Maping plastik.
Lotto Warna Bahan: Potongan triplek Ukuran 20, 5 x 20, 5 x 0, 5 cm.
Ukuran: Potongan triplek sebagai lotto Warnanya, sebanyak 6 buah.
Warna: Warna-warni, tidak berbahaya, tidak berbau, mudah dibersihkan.

– Jenis-jenis APE Untuk Kelompok Umur 3 – 4 Tahun
Kotak Bentuk

Bahan: Potongan triplek.
Ukuran: 15, 2 x 14, 5 x14, 4 cm. Kotak segi empat bagian atas dilubangi dengan bentuk bangun dasar ( lingkaran segitiga, persegi panjang) .
Keping-keping/ potongan kayu berbentuk bangun dasar seperti diatas.
Warna: Warna-warni, tidak berbahaya, tidak berbau, mudah dibersihkan.
Packing: Maping plastik.

Balok Ukur

Bahan: Potongan triplek/ kayu berukuran 23, 5 x23, 5 x 2, 5 cm sebagai alas× Tempat balok kayu.
Potongan balok kayu dengan berbagai ukuran ( pendek, panjang, agak panjang) .
Warna: Tempat balok warna kayu, potongan balok warna kayu.
Packing: Maping plastik.

– Jenis-jenis APE Untuk Kelompok Umur 4 – 5 Tahun
Tangga Silinder
Bahan: Potongan triplek/ kayu berukuran 22, 2 x18 x 6 cm sebagai alas Tempat tiang tangga Potongan balok kayu bentuk silinder.
Warna: Warna-warni, tidak berbahaya, tidak berbau, mudah dibersihkan.
Packing: Maping plastik.
Tangga Kubus
Bahan: Potongan triplek/ kayu berukuran 20× 16× 5cm sebagai alas tempat tiang tangga.
Potongan balok kayu bentuk kubus.
Warna: Warna-warni, tidak berbahaya, tidak berbau, mudah dibersihkan. Packing: Maping plastik.
Kotak Pola Bahan: Potongan papan triplek ukuran 12 x 48, 2 x 4, 5 cm.
Dibuat bentuk kotak dan ada tutup kotak, dan Karton bergambar ( binatang, tanda, angka) .
Packing: Maping plastik

– Jenis-jenis APE Untuk Kelompok Umur 5 – 6 Tahun
Permainan Angka
Bahan: Karton bergambar angka dibagi-bagi menjadi kotak-kotak untuk diberi tulisan angka.
Ukuran: 16, 5 x 21, 5 x 0, 5 cm.
Packing: Maping plastik.
Papan Pasak Bahan: Potongan triplek sebagai alas, pasang pasak ditengahnya.
Ukuran: 21 x 21 x 3 cm.
Potongan kayu bentuk bulat panjang/ pasak dengan diameter sesuai lubang panjang 4 cm sebanyak kira-kira 20 buah.
Bentuk: Segi empat dilubangi kira-kira 20 lubang.
Warna: Warna-warni, tidak berbahaya, tidak berbau, mudah dibersihkan.
Packing: Maping plastik.

b. KANTONG WASIAT
Kantong Wasiat BKB

Spesifikasi: Bahan: Kain + rumbai-rumbai dan kayu gantungan.
Ukuran: 70 cm x 55 cm.
Cetak: Sablon Tertulis nama SKPD-KB Kab./ Kota. Logo KKB dan logo Kab/ Kota.
Kantong Tempel 9 buah
Ukuran: 18 cm x 12 cm.
Isi kantong: Bahan: Art carton 260 gram.
Ukuran: 15 cm x 10 cm.

Cetak: 2 Warna.
Kelompok Umur 0-1 Tahun,
Warna Hijau Muda Pertemuan
I 19 Lembar Pertemuan
II 19 Lembar Pertemuan
III 6 Lembar Pertemuan
IV 18 Lembar Pertemuan
V 18 Lembar Pertemuan
VI 11 Lembar Pertemuan
VII 11 Lembar Pertemuan
VIII 11 Lembar Pertemuan
IX 11 Lembar

Kelompok Umur 1-2 Tahun,
Warna Biru Muda Pertemuan
I 19 Lembar Pertemuan
II 19 Lembar Pertemuan
III 6 Lembar Pertemuan
IV 18 Lembar Pertemuan
V 18 Lembar Pertemuan
VI 11 Lembar Pertemuan
VII 11 Lembar Pertemuan
VIII 11 Lembar Pertemuan
IX 11 Lembar

Kelompok Umur 2-3 Tahun,
Warna Kuning Pertemuan
I 19 Lembar Pertemuan
II 19 Lembar Pertemuan
III 6 Lembar Pertemuan
IV 18 Lembar Pertemuan
V 18 Lembar Pertemuan
VI 11 Lembar Pertemuan
VII 11 Lembar Pertemuan
VIII 11 Lembar Pertemuan
IX 11 Lembar

Kelompok Umur 3-4 Tahun,
Warna Merah Muda Pertemuan
I 19 Lembar Pertemuan
II 19 Lembar Pertemuan
III 6 Lembar Pertemuan
IV 18 Lembar Pertemuan
V 18 Lembar Pertemuan
VI 11 Lembar Pertemuan
VII 11 Lembar Pertemuan
VIII 11 Lembar Pertemuan
IX 11 Lembar

Kelompok Umur 4-5 Tahun,
Warna Putih Pertemuan
I 19 Lembar Pertemuan
II 19 Lembar Pertemuan
III 6 Lembar Pertemuan
IV 18 Lembar Pertemuan
V 18 Lembar Pertemuan
VI 11 Lembar Pertemuan
VII 11 Lembar Pertemuan
VIII 11 Lembar Pertemuan
IX 11 Lembar

c. SIMULASI/ BEBERAN PENYULUHAN BKB
Media penyuluhan/ simulasi berupa beberan.
Spesifikasi: Ukuran: 50 x 70 cm lipat 3.
Lembar simulasi: Art carton 260 gram.
Cetak gambar: 4/ 0 full color, terdapat logo BKKBN dan logo KKB.
Map kantong: 36 x 72 cm lipat 3.
Cetak: 3/ 0.
Kantong isi: Art carton 260 gram.
Tertulis: nama SKPD-KB Kab. & Kota dan Logo BKKBN serta logo Kabupaten dan Kota.

d. MEDIA LEMBAR BALIK UNTUK PENYULUHAN UMUR 0-6 TAHUN ( 6 macam)
Spesifikasi: Pada Cover bagian atas logo KKB bagian bawah logo BKKBN dan Kabupaten dan Kota serta nama SKPD-KB Kab dan Kota, Laminating Glossy.
Bahan: Art Cartoon 260 gram. cetak gambar: 4/ 2 full color vernis 2 muka.
Ukuran: 29, 5 x 21 cm.
Finishing: Spiral kawat, penopang Hard cover Bot 40 lapis kain linen warna hitam.

e. DONGENG

DONGENG: KISAH BEBEK BURUK RUPA
Halaman: 12 Halaman + Cover.
Ukuran: 21 cm x 15 cm.
Bahan isi: Mid Paper 150 gram.
Cetak: Color 4/ 4.
Cover: Laminating Glossy.
Bahan cover: Art karton 230 gram.
Finishing: Jahit Kawat Punggung.
Terdapat tulisan nama SKPD-KB Kabupaten dan Kota serta logo BKKBN dan logo Kabupaten dan Kota.

DONGENG: INDAHNYA PERSAHABATAN
Halaman: 12 Halaman + Cover.
Ukuran: 21 cm x 15 cm.
Bahan isi: Mid Paper 150 gram.
Cetak: Color 4/ 4.
Cover: Laminating Glossy.
Bahan cover: Art karton 230 gram.
Finishing: Jahit Kawat Punggung.
Terdapat tulisan nama SKPD-KB Kabupaten dan Kota serta logo BKKBN dan logo Kabupaten dan Kota.

DONGENG: KECIL TAPI BERMANFAAT
Halaman: 9 Halaman + Cover.
Ukuran: 21 cm x 15 cm.
Bahan isi: Mid Paper 150 gram.
Cetak: Color 4/ 4.
Cover: Laminating Glossy.
Bahan cover: Art karton 230 gram.
Finishing: Jahit Kawat Punggung.
Terdapat tulisan nama SKPD-KB Kabupaten dan Kota serta logo BKKBN dan logo Kabupaten dan Kota.

DONGENG: KURA-KURA DAN KELINCI
Halaman: 10 Halaman + Cover.
Ukuran: 21 cm x 15 cm.
Bahan isi: Mid Paper 150 gram.
Cetak: Color 4/ 4.
Cover: Laminating Glossy.
Bahan cover: Art karton 230 gram.
Finishing: Jahit Kawat Punggung.
Terdapat tulisan nama SKPD-KB Kabupaten dan Kota serta logo BKKBN dan logo Kabupaten dan Kota.

3. TAS BKB KIT
Spesifikasi:
Bahan: Kain D600, Benang, Restliting.
Cetak: Tulisan bordir “ BKB KIT 2018 berwarna Logo BKKBN dan logo Kabupaten dan Kota serta nama SKPD-KB Kabupaten dan Kota.
Ukuran: 45 x 35 x 13 cm.

4. TAS APE KIT
Spesifikasi:
Bahan: Kain D600, benang, restliting.
Cetak: Tulisan Bordir “ APE 2018 berwarna nama SKPD-KB Kab & Kota serta logo BKKBN, Kab & Kota.
Ukuran: 52 cm x 30 cm x 32 cm.

5. PACKING
Spesifikasi:
Bahan: Polyproylin 5 mm.
Sistem: Inject ( Press) .
Ukuran: lebar 33 cm, panjang 60 cm, tinggi 33 cm.
Cetak Dua sisi: sisi pertama, logo BKKBN + www.bkkbn.go.id, dan sisi kedua, Dua Anak Lebih Baik Embosed. Terdapat roda empat buah + pegangan samping.

6. PAPAN NAMA KELOMPOK BKB
Spesifikasi:
Ukuran: 40 X 30 cm.
Bahan: Akrilik Bening 2 mm.
Warna Dasar: Putih.
Warna Tulisan: Hitam terdapat logo Kabupaten & kota serta logo BKKBN ( sesuai warna aslinya) .
Nama Kelompok BKB dan alamat.


Produk Juknis DAK BKKBN 2019-2020 | PT DUMEDPOWER INDONESIA

PT. DUMEDPOWER INDONESIA adalah Distributor Utama Pengadaan Produk-Produk DAK BKKBN 2019-2020 seperti :BKB Kit & APE Kit BKKBN 2019-2020, Obgyn Bed BKKBN 2019-2020 plus Lampu Sorot Halogen, Iud Kit BKKBN 2019-2020 Sterilisator Kering dan Lampu Periksa LED, Kie Kit BKKBN 2019-2020 (KKB) , Kie Kit Pendidikan BKKBN 2019-2020, GenRe Kit BKKBN 2019-2020, Public Address BKKBN 2019-2020, Sarana PLKB BKKBN 2019-2020, Implant Kit BKKBN 2019, Lansia Kit BKKBN 2019-2020, Seragam PPKBD BKKBN 2019-2020, Media Advokasi dan Kie BKKBN 2019-2020, Desktop PC All-in-One BKKBN 2019-2020, Muyan KB BKKBN 2019-2020, Mupen KB BKKBN 2019-2020, Mobil Akseptor BKKBN 2019-2020, Tempat Penyimpanan Kit/ Alat dan Obat Kontrasepsi BKKBN 2019-2020, Motor Petugas Lapangan BKKBN 2019-2020, Mobil Box BKKBN 2019-2020.


Selain itu kami juga membantu para peserta tender untuk kebutuhan kelengkapan surat yang dibutuhkan untuk Tender maupun Penunjukan Langsung ( PL) yaitu : Surat Dukungan, Izin Penyalur Alat Kesehatan ( IPAK) , GAKESLAB, H.A.K.I, Sertifikat ISO, Sertifikat SNI, Sertifikat Cat Anti Toxin, Registrasi DEPKES, Jaminan Purna Jual, Jaminan Ketersediaan Barang, Ijazah ATEM atau Apoteker dan lain-lain.


BKB APE KIT BKKBN 2019-2020

Untuk Pemesanan, Informasi Harga Jual dan Brosur Gambar, Surat Dukungan Produk-Produk Juknis DAK BKKBN 2019-2020 seperti : Izin Penyalur Alat Kesehatan, Gakeslab, HAKI, ISO 9001: 2008, ISO 14001:2004, Sertifikat SNI dan Cat Anti Toxin, Jaminan Purna Jual, Ketersediaan Suku Cadang, Ijazah ATEM dan lain-lain dapat menghubungi :

Tn. Elfian Effendi Kontak : 081315904286 / 082125526000
Kantor : 0213912905
Email : dumedpower@gmail.com
Website :
http://juknisdakbkkbnblog.blogspot.com/